Mata manusia paling nyaman dengan cahaya kuning yang panjang gelombangnya 570-590 nanometer. Dengan panjang gelombang itu, mata tidak perlu berkontraksi sehingga kinerja otak bisa lebih efektif dalam menampung dan mengolah data hasil monitoring mata. 

Berbicara tentang cahaya, selama berabad-abad para ilmuwan bersiteguh bahwa berkas cahaya merupakah suatu partikel yang bergerak bergelombang. Ketika abad ke-19 James Clerk Maxwell berhasil menunjukkan bahwa gelombang elektromagnetik dapat disebarkan dengan kecepatan tinggi dalam ruang hampa, muncullah kontroversi. Supaya tidak berkelanjutan, pada 1924 para ilmuwan menggelar ajang rekonsiliasi. Ada dua hal yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.

Pertama, cahaya merupakan suatu bentuk energi yang dapat mengalir pada kecepatan tinggi dalam ruang hampa. Tidak seperti energi kimia yang hanya dapat dialihkan melalui bantuan materia atau zat, maka energi cahaya lebih bersifat mandiri, tidak memerlukan materi atau zat untuk beralih tempat atau posisi.

Kedua, berkas cahaya memiliki kemampuan menampilkan “informasi” dari satu tempat ke tempat lain. Istilah informasi ini berkaitan dengan proses peralihan energi sedemikian rupa sehingga objek-objek yang terkena energi cahaya akan menyerap, memantulkan, atau membiaskan cahaya itu sehingga objek itu menjadi kasat mata. Informasi mengenai bentuk dan wujud zat itu akan disampaikan kepada otak untuk diolah dan diambil tindakan selanjutnya.

Jadi, meski mata hanya sanggup melihat cahaya berkekuatan 380-740 nanometer, tidak bisa disangkal kalau cahaya merupakan energi vital bagi kehidupan manusia. Dari rentang itu yang paling nyaman ya si Kuning. Hidup kuning!

Sumber: Majalah Intisari April 2004

Sumber gambar: http://science-edu.larc.nasa.gov/EDDOCS/Wavelengths_for_Colors.html